Profile
Alergi

Perlukah Anak Menjalani Tes Alergi?

Perlukah Anak Menjalani Tes Alergi?

Alergi pada Si Kecil tidak bisa lagi dipandang  sebelah mata. Berbagai penelitian membuktikan bahwa dampak alergi pada anak cukup besar, di antaranya bisa menderita asma dan rhinitis di kemudian hari, serta meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Belum lagi dampak sosial yang ditimbulkannya, seperti menurunnya prestasi belajar anak dan meningkatnya pengeluaran biaya kesehatan. Karena itu Anda perlu mengetahui alergi si Kecil sejak dini agar penanganannya tepat.

Jika Anda curiga Si Kecil memiliki alergi, mencari pemicunya akan sangat berarti untuk meningkatkan derajat kesehatan mereka. Alergi pada Si Kecil adalah hal yang biasa terjadi. Menurut sebuah studi, empat sampai enam persen anak menderita alergi makanan, delapan sampai 10 persen memilik asma dan 15-25 memiliki alergi rhinitis. Secara kolektif, jumlah absen sekolah anak-anak tersebut mencapai ratusan dalam setahun.

Jika Si Kecilmenunjukkan gejala alergi, sebaiknya Anda mengajak Si Kecil ke dokter spesialis alergi anak agar dokter bisa membantu menemukan zat apa tepatnya yang menyebabkan gejala alergi muncul pada Si Kecil. Tes tidak diperlukan jika Si Kecil tidak menunjukkan gejala apapun.

Tes alergi bisa menjadi pengalaman yang menakutkan bagi anak dan orangtua. Tapi, semakin cepat Anda tahu pemicu gejala, semakin cepat Si Kecil mendapat pertolongan dan bisa kembali menikmati waktu-waktu cerianya.

Mengapa anak memerlukan tes alergi?

Gejala alergi bisa tersamar dengan gejala penyakit lain, misalnya pilek. Tes alergi bisa menentukan  apakah pilek yang dialami Si Kecil memang karena alergen atau karena sebab lainnya misalnya flu. Tes alergi juga bisa menentukan jenis alergi yang memicu gejala kambuh. Kondisi di mana tes alergi dapat sangat berguna meliputi:

1. Radang atau terjadi iritasi saluran hidung (rhinitis)

2. Asma

3. Reaksi negatif terhadap makanan, sengatan serangga atau obat

4. Ruam kulit (dermatitis atopik atau dermatitis kontak)

5. Gejala flu yang berlangsung selama lebih dari seminggu dan terjadi sekitar waktu yang sama setiap tahun.

6. Batuk dan mengi, terutama pada malam hari, mungkin akibat dari asma, jenis  alergi pernapasan yang disebabkan oleh alergen dalam ruangan.

Bagaimana tes alergi dilaksanakan?

Proses diagnosa biasanya terjadi di kantor dokter spesialis dan melibatkan  riwayat medis Si Kecil dan riwayat alergi atau asma pada keluarga, ditambah tes fisik dan sensitivitas terhadap alergen. Kebanyakan tes alergi menggunakan metode tes kulit, tes darah atau tes eliminasi untuk mendeteksi alergen.

Untuk anak-anak yang telah didiagnosis dengan asma, tes alergi dapat membantu pasien dan keluarga mereka lebih memahami bagaimana alergen mempengaruhi penyakit mereka dan belajar bagaimana untuk menghindari zat-zat tertentu, seperti tungau debu atau bulu hewan peliharaan, yang dapat memperburuk gejala.

Tes kulit

Tes kulit, baik langsung maupun yang tertunda, yang berguna untuk mendeteksi reaksi alergi terhadap partikel udara, makanan, sengatan serangga, penisilin dan zat lainnya. Jenis tes kulit yang paling umum dilaksanakan adalah tes kulit perkutan dan intradermal. Tes kulit ini dilakukan dengan cara menerapkan alergen yang telah diencerkan, dengan cara disuntik atau digores ke permukaan kulit. Atau, dengan menggunakan jarum yang sangat tipis, alergen yang telah diencerkan dimasukkan ke dalam kulit (uji intradermal ). Keduanya dianggap sangat aman dan relatif akurat.

Tes Patch

Ini adalah metode tes kulit  tertunda yag digunakan untuk mendiagnosa alergi dermatitis yang muncul ketika anak-anak terkena zat seperti karet, wewangian atau logam tertentu. Pasien diminta untuk membiarkan bahan uji terpasang selama 48 jam dan harus dijaga agar tetap kering. Ahli alergi akan memeriksa reaksi kulit pada waktu tertentu setelah patch dihapus.

Tes darah (in vitro)

Spesialis alergi juga bisa menggunakan tes darah, seperti tes radioallergosorbent (RAST) atau ImmunoCAP untuk menegakkan diagnosa. . Tes darah mungkin kurang sensitif dibandingkan tes kulit dalam mendeteksi alergi.

Tes eliminasi diet

Untuk anak yang diduga alergi makanan, dokter dapat merekomendasikan dan mengawasi pola makan Si Kecil selama seminggu, dengan mengeliminasi jenis makanan yang diduga sebagai alergen. Makanan yang biasanya memicu alergi adalah susu, kedelai, telur, kacang, gandum,  dan kerang.

Kelemahan metode ini salah satunya adalah kadang pasien sulit patuh pada rekomendasi dokter dan dapat menghasilkan hasil yang tidak akurat atau tidak jelas karena banyak alergen makanan menyamar di makanan kemasan dan olahan.

Tes alergi makanan juga bisa dilakukan dengan cara memberikan jenis makanan  yang dicurigai sebagai alergien untuk dikonsumsi pasien, dalam dosis yang terukur, kemudian dokter akan menilai reaksi yang mungkin timbul.

Untuk informasi lebih lengkap tentang alergi si Kecil, Anda bisa kunjungi www.alergianak.com

 

Ditinjau oleh: dr. Adnan Yusuf

Anda punya pertanyaan seputar Alergi ?
Ask Doctor
Berita hoax banyak menyebar. Tidak hanya memiliki dampak sosial, tapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental Anda. Awas, Berita Hoax Bisa Mengganggu Kesehatan Mental Menjaga kulit agar terhindar dari keriput bisa dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang tepat. Makanan yang Dapat Mencegah Kulit Keriput