Profile
Nutricoach

Mengatasi Anak Picky Eater

Mengatasi Anak Picky Eater

Anak picky eater biasanya menolak makanan baru dan kecenderungan untuk pilih-pilih makanan

Bunda mana yang tidak bingung menghadapi anak yang sulit makan? Dikasih ini tidak mau, diberi itu menolak. Maunya makan yang itu-itu saja. Membuat bunda khawatir anaknya tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Anak seperti ini biasanya disebut “picky eater”.
 
Jangan mudah melabel anak sebagai “picky eater”. Anak berusia kurang dari satu tahun yang baru mulai belajar mengenal rasa dan tekstur makanan memang membutuhkan waktu untuk mengenal dan beradaptasi dengan jenis makanan baru. Anak pada usia ini biasanya belum mengalami neofobia dan belum dapat dikategorikan sebagai “picky eater”. 
 
Anak yang “picky eater” biasanya menolak makanan baru (neofobia) dan kecenderungan untuk sangat pilih-pilih makanan yang didasari oleh suka atau tidak suka, sehingga makanan yang dikonsumsi akan kurang bervariasi (itu-itu saja), lebih suka makanan manis, siap saji, dan bertekstur lembut dan saat makan perlu dialihkan perhatiannya. Anak “picky eater” juga biasanya minum hanya bila makan dan sering mengalami konstipasi. 
 
Bila tidak dapat diatasi, kondisi ini dapat mengakibatkan anak berisiko kekurangan zat gizi antara lain vitamin dan mineral karena lebih jarang mengonsumsi buah dan/atau sayur, berat badan kurang karena kurang asupan total makanan hingga mengakibatkan gagal tumbuh. Anak picky eater rentan mengalami gangguan psikologis, antara lain mudah cemas dan gugup (ansietas), depresi, bahkan attention-deficit/hyperactivity disorder–ADHD,baik saat sekarang maupun di masa yang akan datang. 
 
Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memperkenalkan makanan baru pada anak untuk mencegah neofobia dan mengatasi “picky eater”:
1. Menghargai rasa lapar dan nafsu makan anak.
Jika anak tidak lapar, jangan dipaksa untuk makan atau ngemil. Jangan biasakan untuk menyogok atau memaksa anak untuk makan jenis makanan tertentu atau menghabiskan isi piring makannya Hal ini dapat menyebabkan anak menghubungkan waktu makan dengan ansietas dan frustasi, atau menjadikan anak kurang sensitif terhadap rasa lapar dan kenyang. 
 
2. Buatlah jadwal makan dan ngemil.
Berikan makan maupun camilan pada jam yang sama setiap harinya. Jangan berikan minuman berkalori seperti susu atau jus buah di luar waktu makan atau ngemil karena akan menurunkan nafsu makannya pada jam makan atau ngemil. 
 
3. Jangan membuatkan/membelikan makanan yang diminta anak mendadak. 
Sering terjadi anak menolak makanan yang telah disiapkan dan meminta makanan yang lain. Jangan turuti permintaannya dan buatlah anak tetap duduk di meja makan pada waktu makan yang ditentukan – walau ia tidak makan. 
 
4. Sabar dalam memperkenalkan makanan baru.
Perkenalkan makanan baru agar anak menyentuh atau mencium baunya dulu, atau dengan memberikan secuil makanan baru tersebut ke dalam mulutnya dan biarkan bila anak melepeh atau menolak untuk menelannya. Anak perlu diperkenalkan makanan baru berulang kali sebelum anak menerimanya. Jelaskan pada anak mengenai warna, bentuk, aroma, dan tekstur makanan tersebut – bukan mengatakan bahwa makanan ini “rasanya enak”. 
 
5. Buatlah agar menyenangkan.
Sajikan makanan baru dengan saus, atau makanan lain yang disukai anak. Potong makanan dalam berbagai bentuk yang menarik, sajikan dalam warna-warni yang cerah dan bervariasi, misalnya wortel dengan brokoli. 
 
6. Ajak anak berpartisipasi.
Ajak anak belanja dan ikut memilih buah, sayur, dan berbagai makanan sehat. Jangan beli yang tidak diinginkan anak. Saat di rumah, ajak anak ikut mencuci sayur dan buah, mengaduk bumbu atau jus, atau menata meja.
 
7. Jadilah kreatif
Tambahkan potongan brokoli atau paprika hijau pada saus spageti atau pizza, atau potongan buah pada sereal.
 
8. Kurangi pengalih perhatian
Matikan televisi dan alat elektronik lainnya selama waktu makan untuk membantu anak lebih fokus pada makanan.
 
9. Jangan menjanjikan makanan penutup sebagai hadiah.
Menjadikan makanan penutup sebagai hadiah akan menyebabkan anak menganggap makanan penutup sebagai makanan terbaik dan akan meningkatkan kesukaan anak terhadap makanan manis. Berikan pilihan makanan sehat seperti buah dan yogurt sebagai makanan penutup.
 
10. Tips terbaik adalah: Jadilah contoh yang baik untuk anak. Pastikan si kecil melihat Ayah dan Bunda makan makanan sehat dan beraktivitas fisik. 
Tidak perlu khawatir selama tumbuh kembang anak masih sesuai dengan kurva pertumbuhan normal. Bersabar dan ingatlah bahwa kebiasaan makan anak tidak akan berubah hanya dalam semalam. Perubahan bertahap hari demi hari pada akhirnya akan membiasakan anak pada pola makan yang sehat. (dr. Dian Novita Chandra, M.Gizi)
 
Referensi:
Taylor CM, Wernimont SM, Northstone K, Emmett PM. Picky/fussy eating in
children: review of definitions, assessment, prevalence and dietary intakes.
Appetite. 2015;95:349–59.
 
Zucker N, Copeland W, Franz L, Carpenter K, Keeling L, Angold A, Egger H.
Psychological and psychosocial impairment in preschoolers with selective
eating. Pediatrics. 2015;136:E582–90.
 
Smith AD, Herle M, Fildes A, Cooke L, Steinbekk S, Llewelyn CH. Food fussiness and food neophobia share a common etiology in early childhood. J Child Psychol Psychiatry. 2017;58:189–96.
 
Steinsbekk S, Sveen TH, Fildes A, Llewellyn C, Wichstrøm L. Screening for pickiness – a validation study. IJBNPA. 2017;14:2–5.
 
Nicklaus S.Children's acceptance of new foods at weaning. Role of practices of weaning and of food sensory properties. Appetite Vol. 57, Issue 3, 2011, p 812-815
Anda punya pertanyaan seputar Nutricoach ?
Ask Doctor
Sakit maag datang dengan gejala yang berbeda pada setiap orang. Kenali gejalamu agar kamu dapat menangani dan mengobatinya segera. Sakit Maag, Ini Gejalanya Sakit maag datang dengan gejala yang berbeda pada setiap orang. Kenali gejalamu agar kamu dapat menangani dan mengobatinya segera. Sakit Maag, Ini Gejalanya