Profile
All Topic

Pusat Informasi Paranoid Schizophrenia

Tentang Paranoid Schizophrenia

Paranoid schizophrenia merupakan salah satu subtipe schizophrenia, kondisi kejiwaan di mana penderitanya kehilangan interaksi dengan realita. Paranoid schizophrenia ditunjukkan dengan delusi dan halusinasi yang dialami penderitanya. Tapi, penderitanya juga memiliki kemampuan berpikir dan beraktivitas yang lebih baik dibandingkan penderita subtipe schizophrenia lain. Kondisi ini membutuhkan perawatan seumur hidup. Tapi, dengan penanganan yang tepat, penderitanya bisa hidup membaur dan gejalanya akan terkontrol.

Gejala

Gejala paranoid schizophrenia mencakup :

  • Halusinasi pendengaran, seperti mendengar suara-suara. Penderita mungkin mendengar suara-suara yang mengritik kemampuan mereka, atau memerintahkan mereka melakukan hal-hal tertentu.
  • Delusi, misalnya berpikir bahwa orang-orang ingin melukai kita atau percaya kita bisa terbang. Delusi dapat berujung pada perilaku agresif atau kekerasan, jika penderitanya merasa terancam.
  • Kecemasan berlebih atau anxiety.
  • Tampak tidak memiliki emosi.
  • Penuh dengan kemarahan.
  • Bersikap kasar.
  • Selalu berargumen.
  • Merasa diri paling penting atau bersikap memerintah.
  • Memiliki keinginan atau usaha bunuh diri.

Halusinasi pendengaran dan delusi merupakan dua karakter utama subtipe schizophrenia ini. Penderita paranoid schizophrenia juga jarang sekali terganggu dengan masalah suasana hati (mood), cara atau proses berpikir, konsentrasi, maupun perhatian.

 

Penyebab

Paranoid schizophrenia merupakan bentuk kelainan otak. Faktor genetis dan lingkungan berperan dalam menyebabkan kondisi ini.

Faktor Resiko

Beberapa hal yang meningkatkan risiko munculnya paranoid schizophrenia, yang biasanya mulai tampak pada usia remaja hingga pertengahan 30-an, yaitu:

  • Riwayat schizophrenia di keluarga.
  • Terpapar virus ketika di dalam rahim.
  • Kurang asupan nutrisi saat di dalam rahim.
  • Stres.
  • Jarak umur dengan orang tua yang cukup jauh.
  • Menggunakan obat-obatan psikoaktif saat remaja.

 

Komplikasi Akibat

Paranoid schizophrenia yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan komplikasi berikut:

  • Keinginan atau usaha bunuh diri.
  • Perilaku merusak diri sendiri.
  • Depresi.
  • Penyalahgunaan alkohol, obat-obatan terlarang, maupun obat yang diresepkan.
  • Kemiskinan dan tuna wisma.
  • Pengurungan, misalnya oleh keluarga.
  • Konflik keluarga.
  • Tidak mampu bekerja atau bersekolah.
  • Masalah kesehatan akibat penggunaan obat antipsikosis.
  • Menjadi pelaku ataupun korban kejahatan.
  • Terkena penyakit jantung atau paru-paru.

Diagnosa

Diagnosis paranoid schizophrenia membutuhkan pemeriksaan fisik, tes darah, tes alkohol dan obat-obatan terlarang, tes fungsi tiroid, dan evaluasi psikologis. Jika pasien mengalami banyak delusi dan sering mendengar suara-suara aneh, hampir dipastikan itu adalah paranoid schizophrenia.

Pengobatan

Penanganan semua subtipe schizophrenia sebenarnya serupa. Tapi, tiap penderita mungkin menjalani perawatan yang berbeda, bergantung pada tingkat keparahan gejala dan kondisi penderitanya masing-masing. 

Bentuk penanganan paranoid schizophrenia berupa penggunaan obat-obatan, psikoterapi (konseling), rawat inap di rumah sakit, electroconvulsive therapy (ECT), dan pelatihan kemampuan vokasional.

Penderita paranoid schizophrenia harus selalu mengonsumsi obat sesuai resep, tahu cara mengontrol gejala, serta menghindari alkohol dan obat-obatan terlarang.

 

Pencegahan

Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah paranoid schizophrenia. Beberapa penelitian menunjukkan tanda-tanda schizophrenia sudah muncul sejak masa kanak-kanak atau bahkan ketika balita. Diagnosis dan perawatan dini akan membantu mengontrol gejala, menghindari komplikasi, dan mencegah memburuknya kondisi.

Artikel Terkait

Pertanyaan Terkait

Get the Newsletter! all about Paranoid Schizophrenia

Our free healthy living newsletter delivers useful news, inspiring stories, and delicious recipes to your in-box every day.

Anda punya pertanyaan seputar Paranoid Schizophrenia ?
Ask Doctor